SANGGAU, KALBAR
Persoalan infrastruktur jalan kembali menjadi sorotan di Kabupaten Sanggau. Sejumlah ruas jalan yang dilaporkan masih mengalami kerusakan, berlumpur, dan sulit dilalui memunculkan pertanyaan publik: sejauh mana pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat di tingkat paling bawah?
Sorotan ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan visi pembangunan Pemerintah Kabupaten Sanggau di bawah kepemimpinan Bupati Yohanes Ontot, yang mengusung visi “Sanggau Maju Berkelanjutan dan Berkeadilan”. Di atas kertas, frasa tersebut terdengar menjanjikan. Namun di lapangan, kondisi jalan menjadi salah satu ukuran sederhana yang sulit berdebat dengan kenyataan.
Sebab, bagi masyarakat, pembangunan bukan sekadar rangkaian kalimat indah dalam dokumen perencanaan. Pembangunan harus terasa ketika warga keluar rumah, ketika hasil pertanian hendak dibawa ke pasar, ketika kendaraan mengangkut kebutuhan pokok, hingga ketika anak-anak harus melewati jalan yang sama untuk bersekolah.
Slogan Maju, Jalan Masih Menguji Kesabaran
Kritik terhadap kondisi jalan bukan semata persoalan estetika. Infrastruktur jalan berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat, distribusi ekonomi, keselamatan pengguna jalan, serta konektivitas antarwilayah.
Karena itu, ketika masih ditemukan ruas jalan yang rusak dan berlumpur, pertanyaan publik menjadi sesuatu yang wajar: apakah pembangunan sudah benar-benar menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, atau sebagian kemajuan masih sebatas narasi?
Di sinilah slogan “Sanggau Maju” diuji. Bukan melalui baliho, bukan melalui seremoni, dan bukan pula melalui deretan kalimat dalam laporan kegiatan, melainkan melalui kondisi jalan yang setiap hari diinjak dan dilalui masyarakat.
Kalau jalan masih membuat kendaraan berjibaku dengan lumpur, tentu publik berhak bertanya. Bukan untuk menolak pembangunan, tetapi justru untuk memastikan bahwa pembangunan tidak berhenti sebagai cerita yang terdengar indah dari podium, sementara masyarakat masih berhadapan dengan kubangan di lapangan.
Pemkab Diminta Buka Data dan Prioritas
Pemerintah Kabupaten Sanggau perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kondisi ruas jalan yang menjadi sorotan, termasuk status kewenangan jalan, program penanganan, sumber dan besaran anggaran, progres pekerjaan, serta target penyelesaiannya.
Transparansi menjadi penting agar kritik publik tidak berkembang menjadi sekadar perang persepsi. Pemerintah memiliki ruang untuk menjawab dengan data dan bukti pekerjaan.
Jika sebuah ruas memang masuk dalam agenda prioritas, masyarakat tentu perlu mengetahui kapan ditangani dan bagaimana bentuk intervensinya. Sebaliknya, jika belum dapat ditangani karena keterbatasan anggaran atau persoalan teknis, penjelasan terbuka juga jauh lebih sehat dibanding membiarkan publik menebak-nebak.
“Berkelanjutan dan Berkeadilan” Jangan Berhenti di Dokumen
Visi “Sanggau Maju Berkelanjutan dan Berkeadilan” pada akhirnya memiliki konsekuensi moral dan politik untuk dibuktikan. Kata berkeadilan seharusnya tidak hanya berarti pembangunan di pusat kota atau wilayah yang mudah terlihat, tetapi juga memastikan masyarakat di kawasan yang akses infrastrukturnya masih terbatas memperoleh perhatian yang proporsional.
Begitu pula penekanan pada “Sanggau Berbudaya dan Beriman” semestinya berjalan berdampingan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Sebab budaya boleh dilestarikan, identitas daerah boleh dibanggakan, dan visi pembangunan boleh dirumuskan setinggi mungkin. Tetapi ketika masyarakat masih harus menghitung kedalaman lumpur sebelum melewati jalan, pertanyaan tentang kualitas pembangunan tetap akan muncul.
Pada akhirnya, jalan yang layak adalah bahasa pembangunan yang paling mudah dipahami masyarakat.
Tidak perlu menerjemahkan panjang lebar arti kemajuan. Cukup lihat jalannya.
Jika mulus, masyarakat akan merasakan.
Jika rusak, masyarakat juga yang menanggung.
Dan jika bertahun-tahun masih berlumpur, maka wajar apabila publik bertanya: “Sanggau Maju” ini sudah sampai di mana?
Pemerintah Kabupaten Sanggau kini memiliki kesempatan untuk menjawab kritik tersebut bukan dengan slogan, melainkan dengan data, transparansi, program yang jelas, dan perbaikan jalan yang benar-benar terlihat di lapangan.
Tim Redaksi






